بسم الله الرحمن الرحيم..... Hukum sholat di belakang orang yg kita tidak tau aqidahnya dan pemahamanya

بسم الله الرحمن الرحيم..... Di zaman sekarang muncul banyak syubhat dan banyak perbedaan pendapat tentang beberapa hal yg sebenarnya sudah jelas hukumnya di dalam Syari'ah Islam. Contoh - "hukum sholat di belakang orang yg kita tidak tahu aqidahnya apa dan pemahaman seperti apa. Ada sebagian orang yg menggatakan bhw sholat di belakang imam ahlul bid'ah - tidak sah, ada sebagian orang - mereka meyakini bhw sholat di belakang musyrik yg syiriknya sudah jelas - tidak sah ( tapi kan jarang sekali kita tahu seperti apa syiriknya dan penyimpangganya si A itu) , sebagian orang meyakini bhw tidak boleh sholat di belakang penggikut d3mkr4zy  karena d3mkr4zy - itu syirik besar. Dan ada sebagian orang yg memukul rata dan  menganggap semua penduduk di muka bumi ini sebagai musyrikin ( karena hampir semua ikut d3mkr4zy,  intikhaabaat, ikut pemahaman Orang2 setempat, ikut pemahaman kebanyakan orang setempat yg penuh dengan kesyirikan dan kebid'ahan. Karena itu sebagian orang, tidak mau sholat di masjid2 umum di belakang imam yg pemahamannya tidak jelas,  sebagian orang yg meyakini bahw  tidak sah sholat di masjid berjama'ah di belakang imam ahlul bid'ah  dan di belakang musyrik. Tapi kita kan tidak tahu - apakah si A atau si B ini berdemokrasi dan melakukan syirik2 lainnya atau tidak. Bagaimana jawabannya pertanyaan kita?  Bagaimana Hukum Sholat dalam keadaan seperti yg kita sebut tadi? Apakah betul tidak diterima sholat kita atau tidak menggapa kita sholat di belakang orang yg kita tidak tahu pemahamannya  dan aqidahnya dia seperti apa? Padahal ada perintah Allah Subhaanahu wa Ta'ala dan Rasulnya shalallahu 'aleyhi wa Sallim - KLO kita mendenggar Adzan di masjid - bersegera siatpkan diri dan pergi sholat di masjid berjama'ah.  Mari. Di sini kita bongkar dan  membahas mas'ala ini. 
 Ketika antum sudah tersyubhat dengan pemahaman yang ghulluw, maka antum akan terus tersyubhat dengan apa yang sejalan dengannya serta enggan menela'ah atau membaca penjabaran yang lain.

Contohnya dalam perkara sholat dibelakang masturul hal /muslim hukmi, menukil pendapat imam Ahmad dan imam atS tsauri tanpa dibekali pemahaman ulama yang membahas perkara ini.

Inilah hal yang harus diperhatikan tentang sholat dibelakang Muslim maturul hal:

Cinta Akhirat:
Bagaimana hukum sholat dibelakang Muslim hukmi/masturul haal?

Haruskah mengetahui atau mengorek-ngorek aqidah imam sebelum bermakmum dibelakangnya?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah  berkata:

Boleh bagi lelaki untuk sholat yang lima waktu, jum'at dan selain itu dibelakang yang belum diketahui darinya bid'ah dan kefasikan berdasarkan kesepakatan Imam yang empat dan selain mereka dari para Imam kaum Muslimin dan bukan termasuk syarat dalam menjadikan Imam mengetahuinya makmum aqidah imamnya dan tidak mengujinya dengan berkata: "Apa aqidahmu? Tetapi sholat dibelakang masturul haal. (Majmu Fatawa : 23/351)

Beliau juga berkata:

Dan boleh sholat dibelakang setiap Muslim mastur (tidak diketahui keadaannya) menurut kesepakatan Imam yang empat dan seluruh Imam kaum Muslimin maka siapa yang mengatakan: "Saya tidak sholat jum'at dan jama'ah kecuali dibelakang yang saya ketahui aqidah bathinnya, maka dia adalah mubtadi' (ahlul bid'ah) yang menyelisihi para sahabat dan yang mengikuti mereka dengan ihsan serta para Imam kaum Muslimin yang empat dan selain mereka. Allohu a'lam (Majmu Fatawa : 4/542)

Syaikhul Islam juga berkata:

Sholat dibelakang mastur (yang tidak diketahui) adalah boleh berdasarkan kesepakatan Ulama Muslimin dan siapa yang mengatakan sesungguhnya sholat dibelakang yang tidak diketahui keadaannya adalah haram dan bathil maka dia telah menyelisihi ijma' ahlus sunnah wal jama'ah. (Majmu Fatawa: 3/281)

Bahkan Ibnu Qudamah berpendapat sahnya orang yang sholat dibelakang yang diragukan ke Islamannya:

Ibnu Qudamah rahimahullah  berkata:

[Bila (orang) shalat dibelakang orang yang diragukan keIslamannya atau statusnya sebagai waria maka shalatnya sah selama tidak jelas kekafirannya dan keberadaannya waria yang musykil (tidak bisa dipastikan apa laki-laki atau wanita), karena hukum dhahir dari orang-orang yang shalat adalah Islam apalagi kalau sebagai imam, dan hukum dhahir adalah selamat dari keberadaannya sebagai waria apalagi orang yang mengimami adalah laki-laki.  
Kemudian bila nyata setelah shalat bahwa ia itu kafir atau waria, maka dia wajib mengulangi shalat berdasarkan apa yang telah kami jelaskan.  

Dan bila si imam itu tergolong orang yang kadang muslim dan kadang murtad maka tidak boleh shalat di belakangnya sampai mengetahui di atas agama apa dia itu]. (Al Mughniy Ma’asy Syarhil Kabir 2/34)

Apabila sholat dibelakang yang diragukan ke Islamannya sah terlebih dibelakang yang tidak diketahui keadaannya atau masturul haal.

Apakah penerapan Muslim masturul haal ini hanya berlaku di Darul Islam dan tidak berlaku di Darul Kufri??

Nash-nash yang menetapkan ke Islaman seseorang yang menampakan ciri-ciri ke Islaman atau masturul haal itu mayoritasnya tentang orang yang berada di Darul kufri harbi:

Contoh hadits:
"Usamah bin Zaid radiyallahu 'anhuma berkata, "Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasallam mengutus kami ke Huroqoh dari Juhainah. Kami menyergap mereka di waktu pagi dan mengalahkan mereka. Lalu saya bersama orang anshor mengejar seseorang dari mereka. Setelah kami menguasainya, ia mengucapkan laa ilaaha illalloh. Orang anshor tersebut tidak menahan dirinya (tidak membunuhnya), maka kutusuk ia dengan tombakku sampai mati.

Ketika kami sampai di Madinah dan berita itu sampai kepada Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda kepadaku: “Wahai Usamah, apakah kau bunuh padahal dia telah mengucapkan laa ilaaha illalloh?” Aku jawab, “Wahai Rosululloh, ia mengatakannya hanya untuk melindungi dirinya.” Beliau bersabda lagi, “Wahai Usamah, apakah kau bunuh padahal dia telah mengucapkan laa ilaaha illalloh?” Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasallam terus mengulang-ulangnya sehingga saya berangan-angan seandainya saya tidak masuk Islam sebelum hari itu. [HR. Bukhori]

Dalam riwayat Muslim :

“Apakah ia sudah mengucapkan laa ilaaha illalloh lalu tetap kamu bunuh?” Usamah menjawab, “Ya Rasulullah, ia mengucapkannya karena takut kepada senjata.” Rasulullah bersabda, "Apakah sudah kau belah dadanya sehingga kamu mengetahui ia mengatakannya atau tidak ?." [HR. Muslim]

Imam Nawawi berkata dalam mengomentari hadits diatas:

"Ma'nanya sesungguhnya engkau hanyalah dibebani dengan perbuatan yang dzahir dan apa yang diucapkan oleh lisan... (Fathul Bari: 12/196)

Imam al Qurtuby menjelaskan hadits diatas:
"Didalamnya terdapat petunjuk akan penetapan hukum berdasarkan sebab-sebab yang dzahir tanpa bathin. (Fathul Bari: 12/196)

Bukankah kejadian dalam hadits diatas secara jelas terjadi di Darul Kufri Harbi / kafir yang diperangi?

Ibnu Qudamah berkata:
"Para sahabat kami berkata, seseorang dihukumi keIslamannya DENGAN SHOLAT sama saja apakah dia berada di DARUL HARBI ATAU DI DARUL ISLAM dan sama saja apakah dia sholat berjama'ah atau sendirian, jika dia menegakan Islam setelah itu maka tidak ada permasalahan, dan jika tidak tegak di atasnya (Islam) maka dia murtad diberlakukan atasnya hukum-hukum orang murtad... (Al Mughni ma'as syarhil kabiir: 2/34)

Maka penerapan Muslim masturul haal bisa di Darul Islam dan juga di Darul Kufri harbi berdasarkan nash dan pendapat para Ulama juga berdasarkan keumuman dari nash-nash yang menjelaskan tentang Islam hukmi atau Muslim masturul haal.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 

"Siapa yang shalat dengan shalat kita, dia menghadap kiblat kita, dan memakan sembelihan kita, maka itulah orang muslim.” (HR. Al Bukhari: 391)

Ibnu Hajar berkata dalam syarahnya: 

[Dan ada faidah di dalamnya bahwa urusan-urusan manusia itu diperlakukan sesuai dzahirnya, barangsiapa menampakkan ajaran-ajaran agama ini maka diberlakukan terhadapnya hukum-hukum pemeluk Islam selagi tidak nampak darinya yang 
menyelisihi hal itu]. (Fathul Bariy 1/497).

Adapun perkataan Imam Ahmad  akan anjuran untuk tidak sholat kecuali dibelakang yang sudah diketahui aqidahnya sebagaimana yang tersebar dan masyhur kisahnya yaitu:

Imam Ahmad ditanya : Aku sedang melewati jalan, lalu aku mendengar iqomah (panggilan shalat), bagaimanakah pendapatmu, apakah aku shalat?
Imam Ahmad berkata, "Sungguh aku dahulu bersikap mudah dalam hal ini, tetapi ketika merebak kebid'ahan, maka janganlah engkau shalat, kecuali dibelakang orang yang engkau mengenalnya" (Thabaqaat Al Hanaabilah 1/59)

Syaikhul Islam berkata terkait perkataan Imam Ahmad diatas:

Dan adalah sebagian orang bila bid'ah merebak lebih senang untuk tidak shalat kecuali di belakang orang yang dia ketahui, sebagai 
istihbab (sunnah) saja sebagaimana yang dinukil dari Ahmad bahwa beliau menuturkan itu kepada orang yang bertanya kepadanya, tapi Ahmad tidak berkata bahwa tidak sah kecuali di belakang orang yang saya ketahui  keadaannya]. (Majmu   Al  Fatawa 3/280)

Jadi perkataan Imam Ahmad untuk tidak sholat kecuali dibelakang yang sudah diketahui adalah sebagai bentuk istihbab (sunnah) beliau saja dan beliau juga tidak mengatakan bathil atau tidak sahnya sholat dibelakang yang belum diketahui keadaannya atau masturul haal.

Berkata Imam Ats Tsaury kepada Syu'aib bin Harb sebagaimana dalam Kitab Ushuul Al I'tiqaad Milik Imam Al Laalikaai 1 /170

"Wahai Syu'aib, tidak akan bermanfaat apa yang telah engkau tulis hingga engkau berpendapat bolehnya shalat dibelakang setiap (imam) yang baik maupun yang buruk, dan jihad akan senantiasa tetap hingga hari kiamat, dan bersabar dibawah bendera penguasa yang lalim atau yang adil"

Berkata Syu'aib : Maka aku katakan kepada Sufyan : 

"Wahai Abu Abdillaah, apakah pada semua shalat?
 
Berkata Imam Sufyan Ats Tsaury :

"Tidak, tetapi (maksudnya) shalat jum'at dan shalat iedul fithri dan iedul adha, shalatlah dibelakang siapa yang engkau dapatkan, adapun selain itu maka engkau diberi pilihan untuk tidak shalat kecuali yang engkau tsiqah dengannya dan engkau tahu bahwasanya dia adalah ahli sunnah wal jamaah."

Dalam perkataan Imam Ats Tsauri juga JELAS beliau tidak melarang atau mengatakan bathil, tidak sahnya sholat dibelakang masturul haal, tapi beliau memberi pilihan untuk tidak sholat kecuali dibelakang yang sudah diketahui bahwa dia adalah ahlus sunnah.

Maka kesimpulannya adalah seperti apa yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:

Dan BOLEH sholat dibelakang setiap Muslim mastur (tidak diketahui keadaannya) menurut kesepakatan Imam yang empat dan seluruh Imam kaum Muslimin maka siapa yang mengatakan: "Saya tidak sholat jum'at dan jama'ah kecuali dibelakang yang saya ketahui aqidah bathinnya, maka dia adalah mubtadi' (ahlul bid'ah) yang menyelisihi para sahabat dan yang mengikuti mereka dengan ihsan serta para Imam kaum Muslimin yang empat dan selain mereka. (Majmu Fatawa : 4/542)

Syaikhul Islam juga berkata:

Sholat dibelakang mastur (yang tidak diketahui) adalah boleh berdasarkan kesepakatan Ulama Muslimin dan siapa yang mengatakan sesungguhnya sholat dibelakang yang tidak diketahui keadaannya adalah haram dan bathil maka dia telah menyelisihi ijma' ahlus sunnah wal jama'ah. (Majmu Fatawa: 3/281)

Dalam Aqidah dan Manhaj kami (Aqidah Daulah Islamiyah):

"Kita memandang bolehnya sholat di belakang setiap orang yang baik, pelaku dosa dan orang yang tidak diketahui kondisinya di antara kaum muslimin." Allohu a'lam

Ghoribus Syabab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

*بسم الله الرحمن الرحيم* . *MENGENAL UNGKAPAN BAHASA ARAB DASAR* Ungkapan yang biasa digunakan dalam Bahasa ArabTerima kasih – syukran (شكرًا )Sama sama – afwan ( عفواً )Saya minta maaf – aseef (asif) ( آسف )Baiklah – hasanan ( حسناً )Mungkin – rubbama (ربما )/yumkinAwas! – intabih ( انتبِه )Berhati hatilah – ihzar ( احذر )Jangan lupa – la tansa’ ( لا تنسىٰ )Samiinatun – gemuk ( سمين )Tawiilun – panjang ( طويل )Qasirun – pendek ( قصير )Khofiidhun – rendah ( خفيض )Nahiifun – kurus ( نحيف)Yaum – hari ( يوم)Usbu’ – minggu ( أسبوع)Syahr – bulan ( شهر)Sanah – tahun ( سنة)Ucapan dalam bahasa arab .Selamat malam – laila sa’idah ( ليلة سعيدة)Sobahul khair – selamat pagi ( صباح الخير)Ucapan balas sobahul khair – sobahannur ( صباح النور)Semoga berjaya – bitaufiq wannajah ( بالتوفيق والنجاح)Salam ukhuwah – salam perkenalan ( سلام اخوة)Jazakallah hukhairan – semoga Allah membalas jasa kebaikanmu ( جزاك الله خيرا)Naharun sa’idah – selamat siangAzhoma allahu ajrak – semoga Allah memuliakan amalan kamu ( عظّم الله أجرك)Uhibbuki – saya sayang kamu (perempuan) ( أحبكِ)Uhibbuka- saya sayang kamu (lelaki) ( أحبكَ)Ganti nama/personal pronounsAku/saya – ana ( أنا)Kamu (lelaki) – anta ( أنتَ)Kamu (perempuan) – anti ( أنتِ)Dia (lelaki -seorang ) – huwa ( هُوَ)Dia (perempuan-seorang) – hiya ( هِيَ)Dia (lelaki/perempuan -2orang) -huma ( هماَ)Dia (lelaki -3 dan keatas) – hum ( هُمْ)Dia (perempuan-3 dan keatas) – hunna ( هنَّ)Kami – nahnu ( نحنُ )Kalian (ramai) – antum ( أنتم)Mereka – hum ( هُمْ)Cantik = jamiilah ( جميلة)Jelek = qabih ( قبيح )Bersih = nadziifun ( نظيف)Malas = kaslaan ( كسلان)Ata’allamu = saya belajar ( أتعلم)a’kulu = saya makan ( أاكل )Asyrobu = saya minum ( أشرب)Aqrou = saya membaca ( أقرا)Aktubu = saya menulis ( أكتب)Atakallamu = saya berbicara ( أتكلم)Amsiku = saya memegang ( أمسك)A’malu = saya mengerjakan ( أعمل)Albasu = saya memakai ( ألبس)Toriiqon = jalan ( طريق)Baytun = rumah ( بيت)Mirsamun = pensil ( مِرسم )Qolamun = pulpen ( قلم )Mimsahatun = penghapus ( ممسحة)Mishbaahun = lampu ( مصباح)Sabbuurotun = papan tulis ( سبورة)Kaifahaluka- apa khabar (lelaki) ( كيف حالكَ)Kaifahaluki- apa khabar (girl) ( كيف حالكِ)Askunufi- saya tinggal di ( أسكن في)Umri- umur saya ( عمري )Masmuki? Siapa namamu (untuk perempuan) ( ما اسمكِ)Masmuka? Siapa namamu (untuk laki2) ( ما اسمكَ)Ana tilmiidzatun = saya seorang murid (untuk perempuan) ( انا تلميذة)Ana tilmiidzun = saya seorang murid (untuk laki2) ( انا تلميذ)Ahlam Saiidah = semoga mimpi indah ( احلام سعيدة)Syafakallah-smoga Allah menyembuhkn kamu ( شفاك الله)Ukhwahfillah = Pshabatan Krna Allah ( اخوة في الله)Ukhtin = Kakak @ Saudara Perempuan ( اخت)Akhun = Abang @ Saudara Lelaki ( أخ)Zauj = Suami @ Pasangan (L) ( زوج)Zaujah = Isteri @ Pasangan (P) ( زوجة)Asiff Jiddan = Saya minta maaf sangat2 ( آسف جداً)Ukhwahfillah Abadan Abada = Psaudaraan krna Allah Selama2nya (اخوة في الله أبداً ابدا)Fa’idza Adzamta fatawakkal’alallah = Stelah kmu brazam maka bertawakallah pd Allah (فإذا عزمت فتوكل على الله)Inni Akhafullah = Sesungguhnya aku takut kepada Allah (إني أخاف الله)Maafi Qalbi Ghairullah = Tiada di hatiku selain Allah ( مافي قلبي غير الله)Lau Samatha = Maafkan saya ( لَو سمحتَ)Naltaqi Ghadan = Kita jumpa besok ( نلتقي غداً)Illalliqa’ = selamat berjumpa kembali (الى اللقاء)Syafakallah = moga Allah myembuhkan kamu (L)(شفاكَ الله)Syafakillah = moga Allah myembuhkan kamu (P) (شفاكِ الله)Tafaddhol = Silakan (تفضل)La Aadri/ la ‘a’rif = Saya Tak Tahu (لا أدري)Maa fii Musykilah = tiada masalah (مافي مشكلة)Jazakallahu khairan khatsiira = Smga Allah membalasmu dgn kbaikan (L) ( جزاكَ الله خيراً كثيراً)Jazakillahu khairan khatsiiran = Smga Allah mblasmu dgn kebaikan (P) ( جزاكِ الله خيراً كثيراً)Jazakumullahu khairan khatsiira = Smga Allah mblasmu dgn kebaikan (L&P) جزاكمُ الله خيراً كثيراً)Wa iyyaka (L) = Dan utkmu jua.Blasan utk ucapan 👆(وإياك)Wa iyyaki (P) = dan utkmu jua. Blasan utk ucapan👆(وإ) *والله أعلمُ بالـصـواب* *#Tauhid Manhaj & Aqidah*